Berita

Kamis, 28 Maret 2013 bertempat di Yogyakarta, Dr. Mochammad Syafak Hanung, SpA selaku Direktur Utama RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta membuka secara resmi kegiatan Workshop Program Farmakovigilans kepada Tenaga Kesehatan di RSUP Dr. Sardjito yang diselenggarakan bersama dengan Direktorat Pengawasan Distribusi Produk Terapetik dan PKRT, Badan Pengawas Obat dan Makanan.

 Lebih Lanjut

Dalam pelaksanaan pharmacovigilance, dibutuhkan kerja sama yang baik antar semua key players, antara lain Badan Pengawas Obat dan Makanan, Kementerian Kesehatan, sarana pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan, akademia, dan industri farmasi. Masing-masing memiliki peran dan tanggung jawab dalam menjamin keamanan obat sesuai dengan tugas dan fungsinya dengan tujuan yang sama yaitu menjamin keamanan pasien (patient safety).

 

Sistem pharmacovigilance yang berjalan saat ini adalah sentralistik atau terpusat, di Badan Pengawas Obat dan Makanan RI, yang telah dikenal oleh WHO sebagai National Centre for pharmacovigilance. Sistem pemantauan dan pelaporan efek samping dalam program pharmacovigilance dilakukan secara sukarela oleh tenaga kesehatan. Namun dalam perkembangannya, hal ini belum secara signifikan memiliki daya ungkit untuk peningkatan pelaporan efek samping di Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan beberapa upaya strategis dalam rangka peningkatan program pharmacovigilance di Indonesia.

 Lebih Lanjut

Dr. Sugiharto Tanto, MARS selaku Direktur Utama RSK ST. Vincentius a Paulo Surabaya membuka secara resmi kegiatan Workshop Program Farmakovigilans kepada Tenaga Kesehatan di RSK ST. Vincentius a Paulo pada hari Jumat, 28 Juni 2013 bertempat di Surabaya. Workshop ini diselenggarakan bersama dengan Direktorat Pengawasan Distribusi Produk Terapetik dan PKRT, Badan Pengawas Obat dan Makanan Materi pertama disampaikan oleh Direktur Pengawasan Distribusi PT dan PKRT yang diwakili oleh Ibu Siti Asfijah A, S.Si., Apt., M.MedSc selaku Kasubdit Surveilan dan Analisis Risiko Produk Terapetik dan PKRT, dengan harapan bahwa seluruh tenaga kesehatan di RSK ST. Vincentius a Paulo Surabaya dapat berperan lebih aktif dalam pemantauan dan pelaporan efek samping obat. Dalam workshop kali ini, Dr. Suharti K. Suherman, SpFK selaku narasumber dari Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menyampaikan paparan tentang Pentingnya Farmakovigilans di Rumah Sakit dalam Rangka Jaminan Keamanan Pasien dan Prinsip-Prinsip Interaksi Obat. M.CH. Reza Kartika P. R., S.Farm., Apt. selaku perwakilan dari pihak RSK St. Vincentius a Paulo menyampaikan sekilas tentang aktivitas monitoring efek samping obat (MESO) atau Farmakovigilans di RSK ST. Vincentius a Paulo beserta kendala yang dihadapi serta menghimbau kepada seluruh jajaran tenaga kesehatan untuk berpartisipasi aktif dalam mendukung Program MESO yang diselenggarkan Badan POM. Partisipasi aktif dari tenaga kesehatan akan membantu Badan POM untuk mengetahui profil keamanan obat beredar dan sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan tindak lanjut regulatori terhadap suatu obat demi jaminan keamanan pasien. Workshop diakhiri dengan penutupan oleh Direktur Pelayanan RSK ST. Vincentius a Paulo NS.Rosa Dwi Sahati, S.Kep., MARS.(rhm).

 Lebih Lanjut

Ialah satu mandat dan fungsi yang diemban oleh Badan POM adalah menjamin aspek keamanan (safety), manfaat (efficacy) dan mutu obat yang beredar di Indonesia. Untuk mengawal dan mengawasi keamanan obat yang beredar, Badan POM menjalankan program Pharmacovigilance , atau lebih dikenal dengan MESO (Monitoring Efek Samping Obat). Hal ini disampaikan Dra. Agustine Zaini, Apt, MSi , selaku Plt.Direktur Pengawasan Distribusi Produk Terapetik dan PKRT pada pembukaan Training Pharmacovigilance di Hotel Lumire Jakarta pada 5-7 Desember 2012.

 

Lebih lanjut Dra. Agustine Zaini, MSi menjelaskan bahwa jika di  lihat dari siklusperjalanan suatu obat (drug life cycle), mulai dari proses pengembangan, otorisasi, produksi, distribusi, hingga penggunaan oleh masyarakat, maka pengawalan aspek keamanan obat tidak semata-mata menjadi tanggung jawab Badan POM sebagai lembaga pengawas obat, namun juga menjadi tanggung jawab semua key playersyang terlibat dalam seluruh drug life cycle tersebut, diantaranya industri farmasi, sejawat tenaga kesehatan dan sarana pelayanan obat, serta pasien atau masyarakat sebagai pengguna (sesuai amanat Permenkes RI No. 1799 tahun 2010 tentang Industri farmasi ).

 Lebih Lanjut

Setelah Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia, Nomor Hk.03.1.23.12.11.10690 Tahun 2011 Tentang Penerapan Farmakovigilans Bagi Industri Farmasi diterbitkan dan disosialisasikan pada awal tahun 2012, Badan POM menyusun sebuah tools yang nantinya digunakan untuk melakukan pemantauan aktivitas farmakovigilans kepada industri farmasi. Kegiatan sosialisasi dilaksanakan pada Februari 2012 yang diikuti oleh 100 orang peserta yang terdiri dari perwakilan dari industri farmasi lokal (PMDN), industri famasi asing (PMA) serta peserta internal Badan POM. Dalam kegiatan sosialisasi disampaikan bahwa tools pemantauan farmakovigilans yang disusun dapat digunakan sebagai pedoman bagi petugass dan self assessment bagi industri farmasi. Hasil pemantauan farmakovigilans bagi industri farmasi ini, kedepan diharapkan mampu memberikan gambaran pelaksanaan farmakovigilans di industri farmasi baik PMDN maupun PMA. Sejak diterbitkannya Peraturan Kepala Badan POM tentang Farmakovigilans di industri farmasi, Badan POM memberikan masa peralihan selama 2 tahun agar seluruh industri farmasi menerapkan dan melaksanakan farmakovigilans sebagai langkah nyata jaminan kemanan kepada masyarakat terhadap produk yang beredar di pasaran.(zlf)

 Lebih Lanjut

Polling

Menurut anda bagaimana isi dan tampilan dari website ini ?
  • 39.66%
    Sangat Menarik
  • 29.89%
    Menarik
  • 13.22%
    Cukup Menarik
  • 9.77%
    Tidak Menarik
Poll
Menurut anda bagaimana isi dan tampilan dari website ini ?




logo dsras Email Rapid Alert System

Selamat email anda telah berlangganan untuk selalu mendapatkan informasi terkini mengenai keamanan obat yang beredar di Indonesia.

 

logo dsras Email Rapid Alert System

Anda ingin berhenti berlangganan untuk selalu mendapatkan informasi terkini mengenai keamanan obat yang beredar di Indonesia?