Berita Terbaru             -  Actemra® (Tocilizumab) dan Risiko Hepatotoksisitas            -  Buletin Berita MESO Volume 37, No 1 Edisi Juni 2019            -  Buletin Berita MESO Volume 37, No 1 Edisi Juni 2019            -  INFORMASI LANJUTAN (FOLLOW UP COMMUNICATION) UNTUK TENAGA KESEHATAN PROFESIONAL TENTANG TINDAK LANJUT ANGIOTENSIN II RECEPTOR BLOCKER (ARB)            -  INFORMASI LANJUTAN (FOLLOW UP COMMUNICATION) UNTUK TENAGA KESEHATAN PROFESIONAL TENTANG TINDAK LANJUT ANGIOTENSIN II RECEPTOR BLOCKER (ARB)

Berita

Ialah satu mandat dan fungsi yang diemban oleh Badan POM adalah menjamin aspek keamanan (safety), manfaat (efficacy) dan mutu obat yang beredar di Indonesia. Untuk mengawal dan mengawasi keamanan obat yang beredar, Badan POM menjalankan program Pharmacovigilance , atau lebih dikenal dengan MESO (Monitoring Efek Samping Obat). Hal ini disampaikan Dra. Agustine Zaini, Apt, MSi , selaku Plt.Direktur Pengawasan Distribusi Produk Terapetik dan PKRT pada pembukaan Training Pharmacovigilance di Hotel Lumire Jakarta pada 5-7 Desember 2012.

 

Lebih lanjut Dra. Agustine Zaini, MSi menjelaskan bahwa jika di  lihat dari siklusperjalanan suatu obat (drug life cycle), mulai dari proses pengembangan, otorisasi, produksi, distribusi, hingga penggunaan oleh masyarakat, maka pengawalan aspek keamanan obat tidak semata-mata menjadi tanggung jawab Badan POM sebagai lembaga pengawas obat, namun juga menjadi tanggung jawab semua key playersyang terlibat dalam seluruh drug life cycle tersebut, diantaranya industri farmasi, sejawat tenaga kesehatan dan sarana pelayanan obat, serta pasien atau masyarakat sebagai pengguna (sesuai amanat Permenkes RI No. 1799 tahun 2010 tentang Industri farmasi ).

 

Pemerintah dalam hal ini Badan POM, telah dan akan terus melakukan upaya dan langkah strategis untuk meningkatkan aktivitas pharmacovigilance di Indonesia dan mengantisipasi perkembangan di bidang obat, antara lain menyusun regulasi terkait ketentuan peran dan tanggung jawab industri farmasi dalam melaksanakanpharmacovigilance, penyelenggaraan workshop pharmacovigilance untuk sejawat tenaga kesehatan, training pharmacovigilance secara berkala, peningkatan jejaring untuk pharmacovigilance obat-obat yang digunakan dalam program kesehatan masyarakat, serta upaya-upaya lainnya.

 

Hadir sebagai narasumber dalam training ini adalah Dr. Nafrialdi, SpPD, SPFK, PhD dan Dr. Suharti K. Suherman, SPFK dari FK Universitas Indonesia, Dr. Jarir At-Thobari, Phd dari Universitas Gajah Mada, DIY dan Prof. Dr. Adrianus Cornelis van Grootheest, Phd, dari Netherlands yang keahliannya telah diakui dalam bidangpharmacovigilance. Prof. Adrianus Cornelis saat ini menjabat sebagai Director of Netherlands Pharmacovigilance Centre Lareb, dan juga sebagai Professor of Pharmacovigilance di University of Groningen.(nn)

Polling

Menurut anda bagaimana isi dan tampilan dari website ini ?
  • 38.42%
    Sangat Menarik
  • 28.08%
    Menarik
  • 14.29%
    Cukup Menarik
  • 12.32%
    Tidak Menarik
Menurut anda bagaimana isi dan tampilan dari website ini ?




logo dsras Email Rapid Alert System

Selamat email anda telah berlangganan untuk selalu mendapatkan informasi terkini mengenai keamanan obat yang beredar di Indonesia.

 

logo dsras Email Rapid Alert System

Anda ingin berhenti berlangganan untuk selalu mendapatkan informasi terkini mengenai keamanan obat yang beredar di Indonesia?