Berita Terbaru             -  Buletin Berita MESO Volume 37, No 1 Edisi Juni 2019            -  INFORMASI LANJUTAN (FOLLOW UP COMMUNICATION) UNTUK TENAGA KESEHATAN PROFESIONAL TENTANG TINDAK LANJUT ANGIOTENSIN II RECEPTOR BLOCKER (ARB)            -  INFORMASI LANJUTAN (FOLLOW UP COMMUNICATION) UNTUK TENAGA KESEHATAN PROFESIONAL TENTANG TINDAK LANJUT ANGIOTENSIN II RECEPTOR BLOCKER (ARB)            -  INFORMASI LANJUTAN (FOLLOW UP COMMUNICATION) UNTUK TENAGA KESEHATAN PROFESIONAL TENTANG TINDAK LANJUT ANGIOTENSIN II RECEPTOR BLOCKER (ARB)

Berita



Program pharmacovigilance atau yang dulu lebih dikenal sebagai aktifitas Monitoring Efek Samping Obat atau MESO di Indonesia semakin perlu untuk ditingkatkan mengingat meningkatnya perhatian dan tuntutan terhadap jaminan keamanan obat (drug safety) yang berdampak pada jaminan keselamatan pasien (patient safety). Selama ini program pharmacovigilance lebih banyak bergantung dari partisipasi secara sukarela pelaporan efek samping obat dari sejawat tenaga kesehatan. Namun telah dilakukan beberapa upaya untuk memperkuat pharmacovigilance dengan lebih terstruktur, utamanya dalam hal pharmacovigilance obat program kesehatan masyarakat seperti obat anti retroviral (AIDS/HIV), anti tuberkulosis, dan anti malaria, bekerja sama dengan Program Kesehatan Masyarakat di Kementerian Kesehatan.

 

Upaya perkuatan pharmacovigilance ini perlu dukungan dari berbagai pihak, karena dalam pelaksanaannya memerlukan koordinasi dan komunikasi yang baik antar instansi terkait, baik di tingkat pusat dan daerah, antara lain dari Kementerian Kesehatan, Badan POM, Akademia, Dinas Kesehatan Provinsi dan juga Kabupaten/Kota, fasilitas pelayanan kesehatan baik rumah sakit dan Puskesmas. Hal inilah yang menjadi tantangan bagi pharmacovigilance untuk bisa terlaksana dengan baik, sehingga tujuan utama yaitu keselamatan pasien dapat dicapai.

 

Di samping itu, bahwa tantangan terkait permasalahan kesehatan di Indonesia tidak dapat kita abaikan, misalnya bahwa adanya peningkatan kasus TB resisten obat, dimana pasien memerlukan akses obat yang lebih efektif untuk menanggulangi kondisi penyakitnya. Akan ada situasi di mana pasien-pasien tersebut membutuhkan obat yang lebih baru, namun obat lebih baru tersebut masih memiliki evidence atau bukti efikasi dan keamanan yang masih terbatas.

 

Bedasarkan hal tersebut, pada tanggal 28 – 30 April 2015, Badan POM dengan dukungan dari WHO telah menyelenggarakan Pharmacovigilance Workshop: An Introduction to Cohort Event Monitoring (CEM). Sebagai Narasumber pada workshop tersebut adalah Dr. Shanti Pal (WHO-HQ), Dr. Daisuke Tanaka (WHO-HQ), Dr Christine Halleux (WHO-HQ), Dr Noha Iessa (WHO-HQ), Dr. Comfort Suku (Nigeria FDA), dan Dr. Hilda Ampadu (WHO-CC Acra). Terdapat pula pemaparan dari Badan POM oleh Direktur Pengawasan Distribusi PT dan PKRT serta Subdit TB (Ditjen

 

Diharapkan dengan kegiatan workshop tersebut, tercapai kesepahaman persepsi dan pemahaman tentang pentingnya pharmacovigilance dalam program kesehatan masyarakat, secara khusus utuk program AIDS/HIV, Tuberkulosis dan Malaria (ATM). (mda)



Polling

Menurut anda bagaimana isi dan tampilan dari website ini ?
  • 39.8%
    Sangat Menarik
  • 29.08%
    Menarik
  • 13.27%
    Cukup Menarik
  • 10.71%
    Tidak Menarik
Menurut anda bagaimana isi dan tampilan dari website ini ?




logo dsras Email Rapid Alert System

Selamat email anda telah berlangganan untuk selalu mendapatkan informasi terkini mengenai keamanan obat yang beredar di Indonesia.

 

logo dsras Email Rapid Alert System

Anda ingin berhenti berlangganan untuk selalu mendapatkan informasi terkini mengenai keamanan obat yang beredar di Indonesia?