Berita Terbaru             -  Buletin Berita MESO Volume 37, No 1 Edisi Juni 2019            -  INFORMASI LANJUTAN (FOLLOW UP COMMUNICATION) UNTUK TENAGA KESEHATAN PROFESIONAL TENTANG TINDAK LANJUT ANGIOTENSIN II RECEPTOR BLOCKER (ARB)            -  INFORMASI LANJUTAN (FOLLOW UP COMMUNICATION) UNTUK TENAGA KESEHATAN PROFESIONAL TENTANG TINDAK LANJUT ANGIOTENSIN II RECEPTOR BLOCKER (ARB)            -  INFORMASI LANJUTAN (FOLLOW UP COMMUNICATION) UNTUK TENAGA KESEHATAN PROFESIONAL TENTANG TINDAK LANJUT ANGIOTENSIN II RECEPTOR BLOCKER (ARB)

Berita


Pada tanggal 21-30 Agustus 2013, Badan POM RI menerima kunjungan salah satu staf senior World Health Organization-Uppsala Monitoring Centre (WHO-UMC), Ms. Helena Wilmar. Kunjungan tersebut bertujuan untuk mempelajari program dan aktivitas  farmakovigilans serta mempelajari interaksi dengan organisasi/instansi lain di Indonesia.

 

WHO-UMC adalah pusat kolaborasi yang ditunjuk oleh WHO untuk melaksanakanInternational Drug Monitoring Program yang terletak di kota Uppsala, SwediaWHO-UMC bertugas mengembangkan pemahaman dan kebutuhan masing-masing negara serta mempromosikan farmakovigilans antara lain melalui pendidikan dan pelatihan.

 

Indonesia telah bergabung menjadi Negara anggota dari WHO International Drug Monitoring Program tersebut sejak tahun 1990. Sebagai Negara anggota, Indonesia mempunyai kewajiban untuk melakukan pemantauan dan pelaporan Efek Samping Obat (ESO) yang terjadi di Indonesia. Data ESO dari seluruh dunia yang dikirimkan, termasuk dari Indonesia, selanjutnya akan masuk dalam database WHO-UMC. Drug Regulatory Authorities (DRAs) dari negara-negara anggota saling bertukar informasi berkaitan dengan drug safety melalui portal Vigimed pada website WHO–UMC. Untuk saat ini dan beberapa tahun ke depan Asia terutama negara ASEAN menjadi fokus utama WHO – UMC.

 

Dalam kunjungan tersebut, Ms. Helena Wilmar mempelajari proses farmakovigilans yang dilakukan antara lain penanganan laporan efek samping obat dari tenaga kesehatan dan Industri Farmasi, pengkajian aspek keamanan serta pemantauan implementasi farmakovigilans di Industri Farmasi.

 

Pada kunjungan tersebut, Ms. Helena Wilmar juga memberikan paparan tentang beberapa layanan berupa tools manajemen data yaitu VigiLyze dan VigiFlow. VigiLyze dan VigiFlow dikembangkan untuk memudahkan negara anggota mengakses informasi global database efek samping obat yang ada di WHO. Badan POM RI sebagai pusat farmakovigilans di Indonesia diberikan akses untuk kedua layanan tersebut

 

Menurut penilaian Ms. Helena Wilmar, tim Farmakovigilans di Indonesia terlalu kecil dibandingkan dengan beban kerja yang ada. Oleh karena itu, Ms. Helena Wilmar berpendapat bahwa diperlukan peningkatan peran aktif Balai Besar/Balai POM di daerah untuk mendukung aktivitas farmakovigilans, mengingat luasnya cakupan wilayah  Indonesia. WHO – UMC akan terus memberikan dukungan kepada seluruh negara anggotanya termasuk Indonesia dari segi teknis terutama untuk manajemen data.

 

Dengan kunjungan tersebut diharapkan dapat memperkuat aktivitas farmakovigilans di Indonesia, dan dukungan dari WHO terus diperoleh sehingga manajemen data farmakovigilans di Indonesia semakin baik, terlebih dengan adanya peraturan baru terkait farmakovigilans yang mewajibkan industri farmasi untuk melaporkan efek samping obat. (mda)


Polling

Menurut anda bagaimana isi dan tampilan dari website ini ?
  • 39.8%
    Sangat Menarik
  • 29.08%
    Menarik
  • 13.27%
    Cukup Menarik
  • 10.71%
    Tidak Menarik
Menurut anda bagaimana isi dan tampilan dari website ini ?




logo dsras Email Rapid Alert System

Selamat email anda telah berlangganan untuk selalu mendapatkan informasi terkini mengenai keamanan obat yang beredar di Indonesia.

 

logo dsras Email Rapid Alert System

Anda ingin berhenti berlangganan untuk selalu mendapatkan informasi terkini mengenai keamanan obat yang beredar di Indonesia?