Berita

Program pharmacovigilance atau yang dulu lebih dikenal sebagai aktifitas Monitoring Efek Samping Obat atau MESO di Indonesia semakin perlu untuk ditingkatkan mengingat meningkatnya perhatian dan tuntutan terhadap jaminan keamanan obat (drug safety) yang berdampak pada jaminan keselamatan pasien (patient safety). Selama ini program pharmacovigilance lebih banyak bergantung dari partisipasi secara sukarela pelaporan efek samping obat dari sejawat tenaga kesehatan. Namun telah dilakukan beberapa upaya untuk memperkuat pharmacovigilance dengan lebih terstruktur, utamanya dalam hal pharmacovigilance obat program kesehatan masyarakat seperti obat anti retroviral (AIDS/HIV), anti tuberkulosis, dan anti malaria, bekerja sama dengan Program Kesehatan Masyarakat di Kementerian Kesehatan.

 Lebih Lanjut

 Lebih Lanjut

Menindaklanjuti kegiatan Diseminasi Pedoman Penyelenggaraan Farmakovigilans Obat Program AIDS, Tuberkulosis dan Malaria (ATM) pada tanggal 30 – 31 Oktober 2014 yang lalu, telah diselenggarakan pula Training Pedoman Penyelenggaraan Farmakovigilans Obat Program ATM oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan. Kegiatan training ini diselenggarakan pada tanggal 3 – 5 November 2014 dengan dukungan Global Fund.

 

Drs. Arustiyono, Apt., MPH, selaku Direktur Pengawasan Distribusi Produk Terapetik dan PKRT menyampaikan bahwa program farmakovigilans obat program ATM merupakan langkah yang dilakukan untuk memperoleh profil keamanan obat program ATM sehingga keselamatan pasien dapat tercapai. Koordinasi dan komunikasi yang baik serta pemahaman peran masing-masing institusi terkait menjadi kunci keberhasilan penyelenggaraan farmakovigilans obat program ATM ini, sehingga kita semua bisa mewujudkan perlindungan kesehatan masyarakat yang lebih optimal.

 Lebih Lanjut

Pada tanggal 30 – 31 Oktober 2014 yang lalu, Badan Pengawas Obat dan Makanan dengan dukungan Global Fund menyelenggarakan Diseminasi Pedoman Penyelenggaraan Farmakovigilans Obat Program AIDS, Tuberkulosis dan Malaria (ATM). Kegiatan ini merupakan rangkaian kelanjutan dari kegiatan penyusunan Pedoman Penyelenggaraan Farmakovigilans Obat Program ATM.

 

Dalam sambutannya, Dra. Togi J. Hutadjulu, Apt., MHA menyampaikan bahwa Farmakovigilans untuk obat program ATM merupakan hal yang penting dilaksanakan dalam rangka mengevaluasi keamanan penggunaannya dalam menangani penyakit ATM.  Permasalahan dalam penggunaan obat seperti efek samping, dapat mempengaruhi ketidakpatuhan pasien dalam meminum obat sehingga mempengaruhi tingkat keberhasilan pengobatan, atau bahkan dapat memicu permasalahan lebih serius seperti resistensi.

 Lebih Lanjut

Dalam rangka meningkatkan peran serta tenaga kesehatan dalam bidang Monitoring Efek Samping Obat, Badan POM menyelenggarakan Workshop Program Farmakovigilans kepada sejawat tenaga kesehatan.

 

Sebagai penutup rangkaian workshop program Farmakovigilans yang diselenggarakan pada tahun 2014, Badan POM menyelenggarakan workshop bersama Rumah Sakit Umum Provinsi Nusa Tenggara Barat (RSUP NTB). Bertempat di Hotel Santika, Mataram pada tanggal 5 September 2014, dr. H. Lalu Hamzi Fikri, MM selaku Wakil Direktur Umum dan Keuangan secara resmi membuka Workshop Program Farmakovigilans/Monitoring Efek Samping Obat kepada tenaga kesehatan.

 Lebih Lanjut

Polling

Menurut anda bagaimana isi dan tampilan dari website ini ?
  • 40.27%
    Sangat Menarik
  • 31.54%
    Menarik
  • 14.77%
    Cukup Menarik
  • 7.38%
    Tidak Menarik
Poll
Menurut anda bagaimana isi dan tampilan dari website ini ?




logo dsras Email Rapid Alert System

Selamat email anda telah berlangganan untuk selalu mendapatkan informasi terkini mengenai keamanan obat yang beredar di Indonesia.

 

logo dsras Email Rapid Alert System

Anda ingin berhenti berlangganan untuk selalu mendapatkan informasi terkini mengenai keamanan obat yang beredar di Indonesia?