Berita

Pada tanggal 21-30 Agustus 2013, Badan POM RI menerima kunjungan salah satu staf senior World Health Organization-Uppsala Monitoring Centre (WHO-UMC), Ms. Helena Wilmar. Kunjungan tersebut bertujuan untuk mempelajari program dan aktivitas  farmakovigilans serta mempelajari interaksi dengan organisasi/instansi lain di Indonesia.

 

 Lebih Lanjut

Salah satu upaya Badan POM untuk meningkatkan peran serta tenaga kesehatan dalam bidang Monitoring Efek Samping Obat adalah dengan melaksanakan Workshop program Pharmakovigilans kepada sejawat tenaga kesehatan.

 

Sebagai penutup rangkaian workshop program Pharmacovigilance yang diselenggarakan pada tahun 2013, Badan POM menyelenggarakan workshop bersama dengan RS Jiwa Dr. Radjiman Wediodiningrat, Malang. Bertempat di HotelAtria, Malang pada tanggal 7 November 2013, Dr. Bambang Eko Sunaryanto, SpKJ selaku Direktur Utama RS Jiwa Dr. Radjiman Wediodiningrat Malang secara resmi membuka kegiatan Workshop Program Pharmacovigilans kepada tenaga kesehatan yang diselenggarakan bersama dengan Direktorat Pengawasan Distribusi Produk Terapetik dan PKRT.

 Lebih Lanjut

Kamis, 28 Maret 2013 bertempat di Yogyakarta, Dr. Mochammad Syafak Hanung, SpA selaku Direktur Utama RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta membuka secara resmi kegiatan Workshop Program Farmakovigilans kepada Tenaga Kesehatan di RSUP Dr. Sardjito yang diselenggarakan bersama dengan Direktorat Pengawasan Distribusi Produk Terapetik dan PKRT, Badan Pengawas Obat dan Makanan.

 Lebih Lanjut

Dalam pelaksanaan pharmacovigilance, dibutuhkan kerja sama yang baik antar semua key players, antara lain Badan Pengawas Obat dan Makanan, Kementerian Kesehatan, sarana pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan, akademia, dan industri farmasi. Masing-masing memiliki peran dan tanggung jawab dalam menjamin keamanan obat sesuai dengan tugas dan fungsinya dengan tujuan yang sama yaitu menjamin keamanan pasien (patient safety).

 

Sistem pharmacovigilance yang berjalan saat ini adalah sentralistik atau terpusat, di Badan Pengawas Obat dan Makanan RI, yang telah dikenal oleh WHO sebagai National Centre for pharmacovigilance. Sistem pemantauan dan pelaporan efek samping dalam program pharmacovigilance dilakukan secara sukarela oleh tenaga kesehatan. Namun dalam perkembangannya, hal ini belum secara signifikan memiliki daya ungkit untuk peningkatan pelaporan efek samping di Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan beberapa upaya strategis dalam rangka peningkatan program pharmacovigilance di Indonesia.

 Lebih Lanjut

Dr. Sugiharto Tanto, MARS selaku Direktur Utama RSK ST. Vincentius a Paulo Surabaya membuka secara resmi kegiatan Workshop Program Farmakovigilans kepada Tenaga Kesehatan di RSK ST. Vincentius a Paulo pada hari Jumat, 28 Juni 2013 bertempat di Surabaya. Workshop ini diselenggarakan bersama dengan Direktorat Pengawasan Distribusi Produk Terapetik dan PKRT, Badan Pengawas Obat dan Makanan Materi pertama disampaikan oleh Direktur Pengawasan Distribusi PT dan PKRT yang diwakili oleh Ibu Siti Asfijah A, S.Si., Apt., M.MedSc selaku Kasubdit Surveilan dan Analisis Risiko Produk Terapetik dan PKRT, dengan harapan bahwa seluruh tenaga kesehatan di RSK ST. Vincentius a Paulo Surabaya dapat berperan lebih aktif dalam pemantauan dan pelaporan efek samping obat. Dalam workshop kali ini, Dr. Suharti K. Suherman, SpFK selaku narasumber dari Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menyampaikan paparan tentang Pentingnya Farmakovigilans di Rumah Sakit dalam Rangka Jaminan Keamanan Pasien dan Prinsip-Prinsip Interaksi Obat. M.CH. Reza Kartika P. R., S.Farm., Apt. selaku perwakilan dari pihak RSK St. Vincentius a Paulo menyampaikan sekilas tentang aktivitas monitoring efek samping obat (MESO) atau Farmakovigilans di RSK ST. Vincentius a Paulo beserta kendala yang dihadapi serta menghimbau kepada seluruh jajaran tenaga kesehatan untuk berpartisipasi aktif dalam mendukung Program MESO yang diselenggarkan Badan POM. Partisipasi aktif dari tenaga kesehatan akan membantu Badan POM untuk mengetahui profil keamanan obat beredar dan sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan tindak lanjut regulatori terhadap suatu obat demi jaminan keamanan pasien. Workshop diakhiri dengan penutupan oleh Direktur Pelayanan RSK ST. Vincentius a Paulo NS.Rosa Dwi Sahati, S.Kep., MARS.(rhm).

 Lebih Lanjut

Polling

Menurut anda bagaimana isi dan tampilan dari website ini ?
  • 40.27%
    Sangat Menarik
  • 31.54%
    Menarik
  • 14.77%
    Cukup Menarik
  • 7.38%
    Tidak Menarik
Poll
Menurut anda bagaimana isi dan tampilan dari website ini ?




logo dsras Email Rapid Alert System

Selamat email anda telah berlangganan untuk selalu mendapatkan informasi terkini mengenai keamanan obat yang beredar di Indonesia.

 

logo dsras Email Rapid Alert System

Anda ingin berhenti berlangganan untuk selalu mendapatkan informasi terkini mengenai keamanan obat yang beredar di Indonesia?